SEMANGAT DAN KEBERSAMAAN MEMBUAT KITA BELAJAR UNTUK MENGERTI DAN DIMENGERTI

Rabu, 11 Januari 2012

PANDANGAN FORMALISME RUSIA
Nurhakim (117835436)

A.      Pendahuluan
Renne Wellek and Austen Warren, Theory of Literature menjelaskan, "Structure is concept including both content and form so far as they are organized for aesthetic purposes. The work of art is, then, considered as a whole system of signs, serving a specific aesthtics purpose. (Wellek/Warren, Penguin, Australia, 1970, h. 141) "This structure, however, is dynamic: it changess throughout the process of history while passing through the minds of its readers, critics, and fellow artists" (Idem, 155 - Mengacu Louis Teeter, Scholarship and the Art of Criticism , 1938, 173 - 93 ).

     Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, Pustaka Jaya, Jakarta, 1984: PP. 120 - 153)
1.    Aristoteles dalam bukunya Poetica, yang ditulis di sekitar tahun 340 sebelum Masehi di Athena, meletakkan dasar yang kuat untuk pandangan yang menganggtap karya sastra sebagai struktur yang otonom.
2.    Menurut pandangan Aristotels, dalam tragedi, action (tindakan) itulah yang penting bukan character (watak). Efek tragedi dihasilkan oleh aksi (action) plot (alur -isi cerita)-nya, dan untuk menghasilkan efek yang baik plot harus mempunyai keseluruhan (wholeness), untuk itu harus mempunyai empat syarat utama: Order, amplitude, (complexity), unity, connection (coherence).
Order: berarti urutan dan aturan; urutan aksi harus teratur, harus mnujukkan konsekuensi dan konsistensi yang masuj akal; terutama ada awal, pertengahan, pertengahan dan akhir yang tidak sembarangan.
Amplitude (Complexity): berarti bahwa luasnya ruang lingkup dan kekomplekan karya harus cukup untuk memungkinkan perkmbangan peristiwa yang masuk akal ataupun yang harus ada untuk menghasilkan peredaran dari nasib baik ke nasib buruk, atau sebaliknya.
Unity berarti bahwa semua unsur dalam plot harus ada, tak mungkin tiada, dan tidak bisa bertukar yempat tanpa mengacaukan ataupun membinasakan keseluruhannya.

Connection (Coherence) berarti bahwa sastrawan tidak bertugas untuk menyebut hal-hal yang sungguh-sungguh terjadi, tetapi hal-hal yang mungkin atau harus terjadi dalam rangka keseluruhan plot itu.
Catatan: Justru hal ini merupakan perbedaan hakiki antara sastrawan dan sejarawan: sejarawan menceritakan (apa) yang terjadi, sastrawan menceritakan peristiwa atau kejadian yang masuk akal atau harus terjadi, berdasarkan tuntutan konsistensi dan logika ceritanya.
Konsep Aristoteles itu ternyata tidak pernah menghilang dari dunia sastra Barat, malah dipegang dan dipertahankan oleh penulis maupun pembaca, sebagai konvensi dasar seni sastra. Tentu kelak ada berbagai aliran yang menunjukkan sikap atau pendapat berbeda, seperti yang ditunjukkan oleh aliran Kiritik Baru (New Criticism), Formalisme Rusia, Strukturalisme, Posstrukturalisme, Postmodernisme.

B.  Pembahasan
1.    Pengertian Teori formalisme
Secara Etimologis formalisme berasal dari kata forma (latin), yang berarti bentuk atau wujud. Dalam ilmu sastra, formalisme adalah teori yang digunakan untuk menganalisa karya sastra yang mengutamakan bentuk dari karya sastra yang meliputi tehnik pengucapan –meliputi ritma, rima, aquistik/bunyi, aliterasi, asonansi dsb, kata-kata formal (formal words) dan bukan isi serta terbebas dari unsur luar seperti sejarah, biografi, konteks budaya dsb sehingga sastra dapat berdiri sendiri (otonom) sebagai sebuah ilmu dan terbebas dari pengaruh ilmu lainnya. Teori formalis ini bertujuan untuk mengetahui keterpaduan unsur yang terdapat dalam karya sastra tersebut sehingga dapat menjalin keutuhan bentuk dan isi dengan cara meneliti unsur-unsur kesastraan, puitika, asosiasi, oposisi, dsb.

2.                  Tokoh Teori Formalisme
Tokoh teori formalisme berasal dari Rusia yang menamakan dirinya Opayaz, berkembang sekitar tahun 1914-1930. Teoritis formalisme yang sangat terkenal adalah Victor Shklovsky, Boris Eichenbaum, Roman Jakobson, Leo Jakubinsk dan Yury Tynyanov . Boris Eichenbaum memberi penegasan, kaum formalis dipersatukan oleh adanya gagasan untuk membebaskan diksi puitik dari kekangan intelektualisme dan moralisme yang diperjuangkan dan menjadi obsesi kaum simbolis. Mereka berusaha untuk menyanggah prinsip-prinsip estetika subjektif yang didukung kaum simbolis (yang bersandar pada teori-teorinya Alexander Potebnya, seorang filologis Rusia yang terpengaruh Willhelm von Humboldt) dengan mengarahkan studinya itu pada suatu investigasi saintifik yang secara objektif mempertimbangkan fakta-fakta. Di sisi ini, buah pikir dan gagasan kaum formalis tidak bisa dilepaskan dari keberadaan para penyair Futuris Rusia yang kemunculan karya-karyanya pun merupakan reaksi untuk melakukan perlawanan terhadap poetika kaum simbolis tersebut.

3.    Konsep Teori Formalisme
Konsep yang mendasari studi kaum atau tokoh  formalisme ialah tidak berfokus  pada “bagaimana sastra dipelajari” melainkan “apa yang sebenarnya menjadi persoalan pokok dari studi sastra itu sendiri”. Konsep formalisme sebagaimana yang katakan oleh Jokobson “objek ilmu sastra bukanlah kesusastraan melainkan kesastraannya―yaitu yang menjadikan sebuah karya bisa disebut sebagai karya sastra.”  Boris Eichenbaum juga mengatakan bahwa karakteristik dari kaum formalis hanya berusaha mengembangkan ilmu sastra secara tersendiri, yang studinya lebih dikhususkan pada bahan - bahan kesastraan.;mereka hanya menyarankan untuk mengenali fakta – fakta teoritis yang tersimpan dalam seni sastra. Itulah perkataan dari beberapa para tokoh formalis.
Konsep Formalisme juga menganggap penting berbagai ragam bahasa. Para tokoh membedakan antara ragam bahasa puitik dengan bahasa praktis/prosaik dan ragam bahasa puitik dengan bahasa emotif/emosional. Bagi tokoh formalis, pembedaan tersebut menjadi sangat penting karena masing-masing ragam (pemakaian) bahasa itu memiliki dan menyediakan konteks/tujuan, fungsi, nilai, dan hukum-hukumnya sendiri.
Konsep formalisme yang lain juga menjelaskan bahwa bentuk merupakan sesuatu yang komplet, konkrit atau nyata, dinamis, dan berdiri sendiri. Konsep ini mempercayai bahwa bentuk berhubugan dengan makna yang terkandung pada karya sastra. Jika bentuk diubah maka isi yang terkandung dalam karya sastra akan berubah. Bisa dikatakan bahwa aspek bentuk sangat berpengaruh pada makna atau isi karya sastra.  
Konsep Formalisme selanjutnya ialah gagasan mengenai teknik berhubungan dengan bentuk. Maksud dari konsep ini ialah bahwa persepsi bentuk merupakan hasil dari pemikiran dan pengamplikasian teknik – teknik artistik  khusus yang memaksa pembaca untuk memperhatikan kehadiran bentuk  tersebut. Bentuk dengan menggunakan teknik artistik akan memunculkan kesan pada pembaca. Selain untuk kebutuhan artistik, keberadaan teknik pun dibutuhkan untuk membuat objek yang ingin dideskripsikan.
Selanjutnya, konsep Formalisme menganggap bahwa plot merupakan posisi sebagai struktur. Teori menganai fiksi dan plot perlu diketahui sebagai gagasan yang cukup penting yang dikemukakan oleh para tokoh formalis. Konstruksi plot menjadi subjek dasar yang menyimpan kekhasan pada seni naratif. Salah satu tokoh formalis, Victor Shklovsky, mengatakan bahwa cerita hanya untuk memformulasikan plot, sementara plot itu sendiri menempati posisinya sebagai struktur.

4.    Ruang Lingkup Teori Formalisme
Ruang lingkup teori formalisme meliputi karya sastra itu sendiri serta unsur intrinsik yang membangunnya. Ruang lingkup tersebut kemudian dianalisa dengan menggunakan literature devices untuk mengetahui plot/alurnya. Dalam hal ini menganalisa komponen-komponen linguistik yang tersedia di dalam bahasa (fonetik, morfem, sintaksis, maupun semantik, begitu pun halnya dengan ritma, rima, matra, akustik/bunyi, aliterasi, asonansi, dsb.) sepanjang hal itu ada dalam karya sastra sebagai sarana untuk mencapai tujuan “artistik” yang merupakan sebuah cita rasa sebuah karya sastra.

5.    Tujuan Formalisme
Tujuan utama formalisme adalah studi ilmiah mengenai sastra. Hal ini didasarkan
pada keyakinan para formalis bahwa studi seperti itu sangat mungkin dan memang pantas dilakukan. Kaum formalis yakin bahwa studi-studi mereka akan meningkatkan
kemampuan pembaca untuk membaca teks-teks sastra dengan cara yang tepat, yaitu dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap ‘artistik’ dan ‘sastrawi’. Dalam hal ini Sklovki tertarik pada ‘hukum bahasa puitik’; Jakobson menekankan pentingnya ‘ilmu sastra’ sementara Tynjanov mengungkapkan bahwa untuk menjadi cabang ilmu tersendiri, sejarah sastra harus mengajukan tuntutan atas keterandalan (realibility).
     Roman Jakobson memandang teori sastra dan puitika sebagai bagian integral linguistik. Pandangannya bahwa puisi adalah bahasa dalam fungsi estetis dipublikasikan pada tahun 1921. Empat puluh tahun kemudian, pendirian ini diulangi dalam bentuk yang agak berbeda dalam esainya mengenai “Linguistik dan Puitika” (1960).
     Dengan demikian Literariness yang berhubungan dengan penggunaan bahasa di dalam karya sastra ini merupakan fokus kaum formalis. Mereka beranggapan bahwa bahasa sastra tidak sama dengan bahasa praktis yang digunakan sehari-hari. Hal ini seperti diungkapkan Jakobson bahwa subjek ilmu sastra bukan kesusastraan, tetapi literariness, yaitu yang membuat suatu karya sebagai karya sastra. “The subject of literary science is not literature, but literariness, i.e. that which makes a 5 given work a literary work”( Newton, 1990: 21) Literariness berhubungan dengan penggunaan bahasa di dalam karya sastra dan ini merupakan fokus kaum Formalis. Mereka beranggapan bahwa sastra tidak sama dengan bahasa praktis yang digunakan sehari-hari. Kaum formalis dituntut untuk memperlakukan kesusastraan sebagai satu pemakaian bahasa yang khas, yang mencapai perwujudannya lewat deviasi dan distorsi dari bahasa praktis. Bahasa praktis digunakan untuk komunikasi, sementara bahasa sastra tidak mempunyai fungsi praktis sehingga membuat kita melihatnya secara berbeda.
“The Formalists’ technical focus led them to treat literature as a special use of
language which achieves its distinctness by deviating from and distorting ‘practical’
language. Practical language is used for acts of communication, while literary
anguage has no practical function at all and simply makes us see differently.” (Selden,1986:8)
     Kaum formalis cenderung untuk mengkaji teks sastra secara formal, yaitu dalam kaitannya dengan struktur bahasa. Bentuk karya sastra itu memperoleh kekhususannya dari unsur-unsur yang membangunnya, yakni sejumlah sarana yang mempersulit komunikasi (devices of making it strange). Sarana ini meliputi bunyi seperti rima, matra, irama, aliterasi, dan asonansi. Keseluruhan sarana itulah yang sesungguhnya menimbulkan sifat kesastraan sebuah teks sastra. Singkatnya, yang membedakan kesusastraan dari bahasa praktis adalah kualitas yang dibangunnya. Kaum formalis mempergunakan bahasa sastra secara menginti di dalam puisi. “What distinguishes literature from ‘practical’ language is its constructed quality. Poetry was treated by the Formalists as the quintessentially literary use of language.” (Selden, 1986: 9)

6.    Sinopsis Novel
Novel “Belenggu”
Karya Armijn Pane
Dokter sukartono menikahdengan seorang perempuanberparas ayu, pintar serta lincah.Perempuan itu bernama Sumartinidengan panggilan Tini. SebenarnyaDokter Sukartono tidak mencintaiSumartini. Begitu juga sebaliknyadengan Tini, ia tidak mencintaiDokter Sukartono. Mereka menikahberdua dengan membawa alasanmasing-masing. Dokter Sukartonomenikahi Sumartini karenakecantikan, kecerdasan sertakelincahan yang dimilikinya.
Menurut pikiran DokterSukartono perempuan yang cocokuntuk mendampinginya sebagaiseorang dokter adalah Sumartini.Sumartini sendiri menikahi DokterSukartono, karena dia hendak melenyapkan sejarah masa silamnya.Dia berpendapat menikah dengan seorang dokter, maka besarkemungkinan dia berhasil melupakan masa lalunya yang kelam. Jadikeduanya tidak saling mencintai. Keduanya mempunyai alasanmasing-masing mengapa mereka sampai jadi menikah. karenamereka tidak saling mencintai, mereka berdua juga tidak pernahakrab
Dokter Sukartono dengan Sumartini jarang sekali bertukarpikiran atau berbicara. Masalah yang mereka hadapi masing-masingtidak pernah mereka usahakan dipecahkan secara bersama-samalayaknya suami-istri. Masing-masing memecahkan masalahnyadengan sendiri-sendiri. Karena hal itu, keluarga ini tidak harmonisdan terasa hambar, mereka sering salah paham dan sukabertengkar.
Ketidak harmonisan keluarga ini semankin menjadi-jadi sebabDokter Sukartono sangat bertangung jawab dan mencintaipekerjaannya sebagai seorang dokter. Dia bekerja menolong orangtanpa mengenal waktu. Jam berapapun pasien yang membutuhkanpertolongannya, Dokter Sukartono dengan sigap berusahamembantunya. Akibatnya, Dokter Sukartono melupakan kehidupanrumah tangganya sendiri. Dia sering meninggalkan istrinya sendiridi rumah. Dia betul-betul tidak punya waktu lagi untuk mengurusistrinya Tini.
Dokter Sukartono begitu dipuja dan dicintai oleh pasien-pasienya. Dia tidak hanya suka menolong kapanpun waktunyaorang butuh pertolongan, tapi dia juga tidak meminta bayarankepada pasiennya yang kebetulan tidak punya uang. Itulahsebabnya Dokter Sukartono sangat terkenal sebagai seorang dokteryang sangat dermawan. Akan tetapi kesibukan Dokter Sukartonoyang demikian tak kenal siang maupun malam itu, semankinmemicu percekcokan dalam rumah tangganya sendiri.
Dokter sukartono menurut Sumartini sangat egois. Sumartinimerasa disepelekan. Dia bosan terus sendirian, karena ditinggalkanDokter Sukartono yang selalu sibuk menolong pasien-pasienya.Sumartini merasaka dirinya telah dilupakan dan merasa bahwaderajat serta martabatnya sebagai seorang perempuan telahdiinjak-injak Dokter Sukartono. Haknya dan derajatnya sebagaiseorang perempuan telah dilalaikan oleh Dokter Sukartono.
Sumartini menuntut haknya sebagai seorang perempuan.Karena merasa haknya sebagai seorang perempuan itu tidakmampu dipenuhi oleh suaminya Dokter Sukartono. Hampir tiap harimereka berdua bertengkar. Masing-msing tidak ada yang maumengalah. Keduanya saling ngotot dan merasa paling benar.
Suatu hari Dokter Sukartono mendapat panggilan dariseseorang yang mengaku dirinya sedang sakit keras. Wanita itumemintak Dokter Sukartono datang ke hotel tempat wanita itumenginap. Setelah mendapat panggilan itu, Dokter Sukartono pergike hotel itu, dan terkejut bahwa pasien yang memanggilnya itutidak lain adalah Yah atau Rohayah.
Dokter Sukartono sudah lama kenal dengan Rohayah. Diasudah kenal sejak kecil, sewaktu masih bersekolah di sekolahrakyat. Rohayah adalah teman sekelasnya.Yah waktu itu sudahmenjadi seorang janda. Dia korban kawin paksa karena tidaksangup hidup dengan suami pemberian orang tuanya, Rohayahkemudian melarikan diri ke Jakarta. Dia di Jakarta terjun ke dunianista yaitu menjadi wanita panggilan.
Rohayah sendiri sebenarnya secara diam-diam sudah lamamencintai Dokter Sukartono. Dia sering menghayal DokterSukartono itu adalah suaminya. Itulah sebabnya secara diam-diampula dia mencari alamat Dokter Sukartono. Setelah ketemu,Rohayah langsung menghubungi Dokter Sukartono. Ia pura-purasakit, agar Dokter Sukartono mau datang. Karena Rohayah sangat merindukan Dokter Sukartono, pada saat itu juga Ia langsungmengoda Dokter Sukartono. Rohayah sangat ahli dalam mengodadan merayu laki-laki.
Pada waktu pertama kali datang ke hotel tempat diamenginap, Dokter Sukartono tidak begitu tergoda oleh rayuanRohayah, tetapi karena Rohayah sering meminta Dokter Sukartonodatang ke hotel untuk menyembuhkan penyakitnya, DokterSukartono lama kelamaan tergoda juga. Rohayah sangat pintarmemberi kasih sayang yang sangat dibutuhkan oleh DokterSukartono. Selama ini ia tidak pernah mendapatkan ini denganSumartini istrinya di rumah. Akibatnya , karena dirumah tidakpernah merasa tenteram karena terus bertengkar dengan istrinya,maka Dokter Sukartono sering menggunjungi Rohayah.
Hotel tempat Rohayah menginap itu, dirasakan oleh DokterSukartono sudah tak ubah rumah kedua. Lama-kelamaan hubunganRohayah dan Sukartno ini, akhirnya di ketahui juga oleh Sumartini.Betapa panas hati Sumartini mendengar hubungan gelap suaminyadengan seorang wanita yang bernama Rohayah itu. Betapa ingindirinya melabrak wanita yang bernama Rohayah itu. Secara diam-diam Sumartini pergi ke hotel tempat Rohayah menginap denganmembawa segudang kekesalan dan dendam pada Rohayah. Diahendak mengatai Rohayah habis-habisan karena telah mengambildan menggangu suami orang,. Akan tetapi setelah ia bertatapdengan Rohayah, Sumartini menjadi luluh.
Sedalam kebencian dan nafsu marahnya pada Rohayah tiba-tiba lenyap. Rohayah yang dianggapnya sebelumnya adalahseorang wanita jalang, teryata adalah seorang wanita yang lembutdan penuh keramahan. Sumartini menjadi malu pada Rohayah. Diamerasa selama ini, telah bersalah pada Dokter Sukartono. Dia tidakbisa menjadi seorang istri yang didambakan oleh Dokter Sukartonosuaminya selama ini.
Sepulang pertemuanya dengan Rohayah, Sumartini mulaiberpikir kembali tentang dirinya. Dia merasa malu dan bersalahpada suaminya. Dia merasa dirinya belum pernah menberi kasihsayang yang lembut pada suaminya. Selama ini ia selalu kasar padasuaminya dan dan merasa bahwa ia telah gagal menjadi seorangistri. Akhirnya Tini memutuskan akan memilih pisah dengan DokterSukartono.
Permintaan Sumartini istrinya untuk berpisah diterima denganberat oleh Sukartono. Bagaimanapun Sukartono tidakmengharapakan terjadinya perceraian antara mereka. DokterSukartono pun telah mintak maaf pada Sumartini. Dia telahmerubah tingkah lakunya, namun keputusan Sumartini sudah bulat.Dokter Sukartono tidak mampu menahanya dan akhirnya merekabercerai. Sangat sedih hati Sukartono bercerai dengan Sumartini. Tambah sedih  lagi hati Dokter sukartono, sebab ternyata rohayah juga pergi. Rohayah hanya meninggalkan sepucuk surat, yangmengabarkan bahwa dia mencintai Dokter Sukartono dan Rohayah juga mengabarkan bahwa ia meninggalkan tanah air untuk selama-lamanya dan pergi ke negeri calidonia. Dokter sukartono sedih dengan kesendiriannya. Sumartini telah prgi ke surabaya  mengabdi di sebuah panti asuhan yatim piatu.

7.      Analisis Novel Belenggu
Novel Belenggu ini menyuguhkan karya yang sangat menarik. Dilihat dari segi cerita, penokohan, sudut pandang hingga bahasanya. Novel Belenggu menceritakan tentang kehidupan rumah tangga yang tidak lagi harmonis. Penuh dengan kemisteriusan. Cerita yang disuguhkan mengandung nilai-nilai budaya, etika dan moral yang dapat mempengaruhi pembacanya. Penokohan juga sangat baik karena memberikan karakter-karakter yang pasti dan tidak berbelit-belit. Menggunakan setting budaya Jawa yang sangat khas di masa lalu. Kental dengan seni dan etikanya.
     Dalam tugas ini, yang dititikberatkan mengenai formalisme Rusia adalah segi bahasanya. Bahasa yang disuguhkan oleh Armijn Pane dalam novel Belenggu ini sangat khas. Menunjukkan ciri-ciri sastra yang murni. Sehingga pembaca dapat mencermati bahwa karya ini adalah benar-benar sastra. Bahasa yang tidak terlalu baku dan juga tidak terlalu informal. Bahasa yang digunakan sangat indah dan mencirikan sastra sesungguhnya. Apalagi ditambah dengan puisi-puisi yang juga semakin memperkaya karya.
Contohnya saat Armijn Pane menggunakan majas perbandingan yang dianalogikan dengan tabiat Yah dan Tini yang terdapat pada halaman 67 yang berbunyi :
Yah, tiada gelap, tiada tersembunyi, ialah pemandangan luas, disinari matahari, pemandangan lepas, tiada teralang oleh barang sesuatu juga. Tini gelap, pintu jiwanya tertutup, dikuncinya, kesimpulan pikiran yang hidup tersembunyi dalam dirinya. Tini gunung berapi yang banyak tingkah!
Atau seperti ucapan Kartono terhadap Yah di halaman 93 yang benar-benar sangat merasuk ke jiwa. ”Ah, Yah, adakah orang yang mengenal lagu di dalam hatiku?” dan ”Maksudku,.. maksudku, tahukan kita dasar hati kita sendiri, apa yang menalun, bersuara, menangis dalam hati jiwa kita?”
     Adapula bahasa yang terlampir dalam perkataan-perkataan tokoh di dalam novel yang menggambarkan emosi Hartono yang sangat kuat dari tokohnya yang dipaparkan pada halaman 115 yakni ”Lupakanlah, matikanlah angan-angan. Lepaskanlah belenggu ini. Buat apa bergantung pada zaman dahulu”. Dan juga emosi Tini ”Coba angan-angankan, jiwa digantung! Mari tuan-tuan, nyonya-nyonya, disini ada jiwa digantung!”
     Dalam novel Belenggu ini pula Armijn Pane berhasil mendeskripsikan perasaan hati tokoh Tini yang juga sangat menyentuh dan dapat ditafsirkan oleh pembaca yang paparannya terdapat di halaman 136 : Haru biru yang selama ini dalam hatinya sudah hilang sama sekali. Belenggu yang sebagai mengikat semangatnya sudah terlepas. Di hadapan mata semangatnya dengan terang memanjang jalan yang akan ditempuhnya.
     Puisi-puisi yang disuguhkan oleh Armijn Pane juga sangat memperkaya novel ini. Bahasa puisi yang sangat menyentuh hati pembaca juga dapat menghipnotis. Seperti contoh puisi di halaman 145 :
Dari dulu sudah kutahu,
Aku cinta padamu saja.
Selalu engkau dalam kalbuku,
Tidak hilang dari jiwa.

Dari dulu sudah kutahu,
Cintaku tiada akan mati.
Selama masa selama waktu,
Ke liang kubur kubawa mati

     Formalisme Rusia tidak menilai apa yang terkandung atau apa makna tersirat dari novel Belenggu ini. Yang ingin dinilai adalah bahasanya. Bahasaya sangat menarik dan sangat mencirikan kesastraan. Metode yang dipakai Armijn Pane dalam membuat karyanya begitu tersusun rapi. Dan dapat dinilai oleh Formalisme Rusia sebagai sastra yang baik.


C.   Penutup
Dari penjelasan diatas dapat  ditarik sebuah kesimpulan bahwasanaya Secara Etimologis formalisme berasal dari kata forma (latin), yang berarti bentuk atau wujud. Dalam ilmu sastra, formalisme adalah teori yang digunakan untuk menganalisa karya sastra yang mengutamakan bentuk dari karya sastra yang meliputi tehnik pengucapan –meliputi ritma, rima, aquistik/bunyi, aliterasi, asonansi dsb, kata-kata formal (formal words) dan bukan isi serta terbebas dari unsur luar seperti sejarah, biografi, konteks budaya dsb sehingga sastra dapat berdiri sendiri (otonom) sebagai sebuah ilmu dan terbebas dari pengaruh ilmu lainnya. Teori formalis ini bertujuan untuk mengetahui keterpaduan unsur yang terdapat dalam karya sastra tersebut sehingga dapat menjalin keutuhan bentuk dan isi dengan cara meneliti unsur-unsur kesastraan, puitika, asosiasi, oposisi, dsb.
     Dalam karangan armijn panne apabila dikaji dengan mengunakan teori formalisme maka tidak menilai apa yang terkandung atau apa makna tersirat dari novel Belenggu ini. Yang ingin dinilai adalah bahasanya. Bahasaya yang digunakan dalam karyanya sangat menarik dan sangat mencirikan sebuah kesastraan. Metode yang dipakai Armijn Pane dalam membuat karyanya begitu tersusun rapi. Dan dapat dinilai oleh Formalisme Rusia sebagai sastra yang baik.




















DAFTAR PUSTAKA

Ryan, Mihael. 2011. Literary Theory: A Practical Introduction. Diterjemahkan Bethari Anissa Ismayasari. Jalasutra: Yogyakarta. Hal. 340.


www.RayaKultura.Net. Di akses 08 januari 2012.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar