SEMANGAT DAN KEBERSAMAAN MEMBUAT KITA BELAJAR UNTUK MENGERTI DAN DIMENGERTI

Kamis, 09 Februari 2012

Psikolinguistik


Psikolinguistik
Penyaji: Rizal Effendy Panga, Sutaryanti, Masrani, Hasan Kamaruddin

A. Pendahuluan
Psikologi berasal dari bahasa Inggris pscychology. Kata pscychology berasal  dari bahasa Greek (Yunani), yaitu dari akar kata psyche yang berarti jiwa, ruh, sukma dan logos yang berarti ilmu.  Jadi, secara etimologi psikologi berati ilmu jiwa. Pengertian psikologi sebagai ilmu jiwa dipakai ketika psikologi masih berada atau merupakan bagian dari filsafat, bahkan dalam kepustakaan kita pada tahun 50-an ilmu jiwa lazim dipakai sebagai padanan psikologi. Kini dengan berbagai alasan tertentu (misalnya timbulnya konotasi bahwa psikologi langsung menyelidiki jiwa)  istilah ilmu jiwa tidak dipakai lagi.
Pergeseran atau perubahan pengertian yang tentunya berkonsekuensi pada objek psikologi sendiri tadi tentu saja berdasar pada perkembangan pemikiran para peminatnya. Pengertian psikologi dalam tiga bagian yang pada prinsipnya saling berhubungan.
1.      Psikologi adalah studi mengenai ruh.
2.      Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai kehidupan mental.
3.      Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai tingkah laku organisme.
Pengertian  pertama  merupakan  definisi yang paling kuno dan klasik (bersejarah) yang berhubungan dengan filsafat Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Mereka menganggap bahwa kesadaran manusia berhubungan dengan ruhnya. Karena itu, studi mengenai kesadaran dan proses mental manusia pun merupakan bagian dari studi mengenai ruh.
Ketika psikologi  melepaskan  diri  dari filsafat sebagai induknya dan menjadi ilmu yang mandiri pada tahun 1879, yaitu saat Wiliam Wundt (1832-1920) mendirikan   laboratorium psikologinya, ruh dikeluarkan dari studi psikologi. para ahli, di antaranya William james (1842-1910) sehingga pendapat kedua menyatakan bahwa  psikologi sebagai ilmu pengetahuan mengenai kehidupan mental.

Pengertian ketiga dikemukakan  J.B. Watson (1878-1958) sebagai tokoh yang radikal yang tidak puas dengan definisi tadi lalu beliau mendefinisikan psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang tingkah laku (behavior) organisme. Selain itu, Watson sendiri menafikan (menganggap tidak ada) eksistensi ruh dan kehidupan mental. Eksistensi ruh dan kehidupan internal manusia menurut Watson dan kawan-kawannya tidak dapat  dibuktikan karena tidak ada, kecuali dalam hayalan belaka. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa Psikologi behaviorisme adalah aliran ilmu jiwa yang tidak berjiwa.
Untuk menengahi pendapat tadi muncullah pengertian yang dikemukakan oleh pakar yang lain, di antaranya Crow & Crow. Menurutnya psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya (manusia, hewan, iklim, kebudayaan, dan sebagainya. Pengertian psikologi di atas sesuai dengan kenyataan yang ada selama ini, yakni bahwa para psikolog pada umumnya menekankan penyelidikan terhadap perilaku manusia yang bersifat jasmaniah (aspek pasikomotor) dan yang bersifat rohaniah (kognitif dan afektif). Tingkah laku psikomotor (ranah karsa) bersifat terbuka, seperti berbicara, duduk, berjalan, dan sebagainya., sedangkan tingkah laku kognitif dan afektif (ranah cipta dan ranah rasa) bersifat tertutup, seperti berpikir, berkeyakinan, berperasaan, dan sebagainya. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa psikologi ialah ilmu pengetahuan mengenai prilaku manusia baik yang tampak maupun yang tidak tampak (Chaer, 2009).
Linguistik  adalah  ilmu  yang mempelajari  bahasa secara ilmiah . Sejalan dengan  pendapat di atas Martinet mengemukakan   bahwa linguistik adalah telaah ilmiah mengenai bahasa manusia. Menurut Langacker, linguistik adalah bahasa manusia. Sedangkan menurut Lyons, linguistik adalah studi bahasa secara ilmiah. Berdasarkan kedua batasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa objek linguistik adalah bahasa dan bahasa yang dimaksud adalah bahasa manusia. Untuk berkomunikasi bahasa memegang peranan yang sangat penting. Bahasa yang sangat berperan adalah bahasa lisan. Semua manusia menggunakan bahasa lisan untuk menghubungkan dirinya dengan dunia di luar dirinya. penggunaan bahasa dapat dijadikan alat untuk menerka proses yang bergejolak dalam jiwa seseorang.
Secara lebih rinci dalam Webster’s New Collegiate Dictionary dinyatakan linguistics is the study of human speech including the units, nature, structure, and modification of language ‘linguistik adalah studi tentang ujaran manusia termasuk unit-unitnya, hakikat bahasa, struktur, dan perubahan-perubahan  bahasa’. Kridalaksana memberikan definisi, psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dan akal budi manusia (2011:203).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Linguistik ialah ilmu tentang bahasa dengan karakteristiknya. Bahasa sendiri dipakai oleh manusia, baik dalam berbicara maupun menulis dan dipahami oleh manusia baik dalam menyimak ataupun membaca.
Berdasarkan pengertian psikologi dan linguistik pada uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari perilaku berbahasa, baik perilaku yang tampak maupun perilaku yang tidak tampak.
Untuk lebih jelasnya, mengenai pengertian psikolinguistik berikut ini dikemukakan beberapa definisi psikolinguistik.
Sebelum menggunakan bahasa, seorang pemakai bahasa terlebih dahulu memperoleh bahasa. Dalam kaitan ini  Levelt mengemukakan bahwa psikolinguistik adalah suatu studi mengenai penggunaan dan perolehan bahasa oleh manusia. Dalam proses berbahasa terjadi proses memahami dan menghasilkan ujaran,  berupa kalimat-kalimat. Karena itu, Emmon Bach mengemukakan bahwa psikolinguistik adalah suatu ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya para pembicara/pemakai  bahasa membentuk/ membangun kalimat-kalimat bahasa tersebut.
Sejalan dengan pendapat di atas Slobin mengemukakan bahwa psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi dan bagaimana kemampuan bahasa diperoleh manusia. Secara lebih rinci Chaer berpendapat bahwa  psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa, dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu.
Pada hakikatnya dalam kegiatan berkomunikasi terjadi proses memproduksi dan memahami ujaran.  Dalam kaitan ini Garnham mengemukakan Psycholinguistics is the study of a mental mechanisms that nake it possible for people to use language. It is a scientific discipline whose goal is a coherent theory of the way in which language is produce and understood ‘Psikolinguistik adalah studi tentang mekanisme mental yang terjadi pada orang yang menggunakan bahasa, baik pada saat memproduksi atau memahami ujaran’.

B. Sejarah Psikolinguistik
            Psikolinguistik adalah ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu, yaitu psikologi dan linguistik. Hal ini sebenarnya sudah tampak pada permulaan abad ke-20 ketika psikolog Jerman Wilhelm Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar prinsip-prinsip psikologis. Pada waktu itu telaah bahasa mulai mengalami perubahan dari sifatnya yang estetik dan kultural ke suatu pendekatan yang “ilmiah”. Sementara itu, di benua Amerika kaitan antara bahasa dengan ilmu jiwa juga mulai tumbuh. Perkembangan ini dapat dibagi menjadi empat tahap (Kess, 1992): (a) tahap formatif, (b) tahap linguistik, (c) tahap kognitif, dan (d) tahap teori psikolinguistik, realita psikologis, dan ilmu kognitif (Kess, 1992 dalam Dardjowidjojo, 2010: 2-3).
a. Tahap Formatif
           Pada pertengahan abad ke-20 John W. Gardner, seorang psikolog dari Carnegie Corporation, Amerika, mulai menggagas penggabungan kedua ilmu ini. Ide ini kemudian dikembangkan oleh psikolog lain, John B. Carroll, yang pada tahun 1951 menyelenggarakan seminar di Universitas Cornell untuk merintis keterkaitan antara kedua disiplin ilmu ini. Pertemuan ini dilanjutkan pada tahun 1953 di Universitas Indiana. Hasil pertemuan ini membuat gema yang sangat kuat di antara para ahli ilmu jiwa maupun ahli bahasa sehingga banyak penelitian yang kemudian dilakukan terarah pada kaitan antara kedua ilmu ini. Pada saat itulah istilah psycholinguistics pertama kali dipakai. Kelompok ini kemudian mendukung penelitian mengenai relativitas bahasa maupun universal bahasa. Pandangan tentang relativitas bahasa seperti dikemukakan oleh Benjamin Lee Whorf (1956) dan universal bahasa seperti dalam karya Greenberg (1963) merupakan karya-karya pertama dalam bidang psikolinguistik.
b.   Tahap Linguistik
     Perkembangan ilmu linguistik, yang semula berorientasi pada aliran behaviorisme dan kemudian beralih ke mentalisme (yang sering juga disebut sebagai nativisme) pada tahun 1957 dengan diterbitkannya buku Chomsky, Syntactic Structures, dan kritik tajam dari Chomsky terhadap teori behavioristik B.F. Skinner (Chomsky 1959) telah membuat psikolinguistik sebagai ilmu yang banyak diminati orang. Hal ini makin berkembang karena pandangan Chomsky tentang universal bahasa makin mengarah pada pemerolehan bahasa, khususnya pertanyaan, “Mengapa anak di mana pun juga memperoleh bahasa mereka dengan memakai strategi yang sama”.
     Kesamaan dalam strategi ini didukung pula oleh berkembangnya ilmu neurolinguistik  dan biolinguistik. Studi dalam neurolinguistik menunjukkan bahwa manusia ditakdirkan memiliki otak yang berbeda dengan primat lain, baik dalam struktur maupun fungsinya. Pada manusia ada bagian-bagian otak yang dikhususkan untuk kebahasaan, sedangkan pada binatang bagian-bagian ini tidak ada. Dari segi biologi, manusia juga ditakdirkan memiliki struktur yang sedemikian rupa sehingga memungkinkan manusia untuk mengeluarkan bunyi yang berbeda-beda. Ukuran ruang mulut dalam bandingannya dengan lidah, kelenturan lidah, dan tipisnya bibir membuat manusia mampu untuk menggerak-gerakkannya secara mudah untuk menghasilkan bunyi-bunyi yang distingtif.
c.    Tahap Kognitif
            Pada tahap ini psikolinguistik mulai mengarah pada peran kognisi dan landasan biologis manusia dalam pemerolehan bahasa. Pelopor seperti Chomsky mengatakan bahwa linguis itu sebenarnya adalah psikolog kognitif. Pemerolehan bahasa pada manusia bukanlah penguasaan komponen bahasa tanpa berlandaskan prinsip-prinsip kognitif. Tatabahasa, misalnya, tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terlepas dari kognisi manusia karena konstituen dalam suatu ujaran sebenarnya mencerminkan realita psikologi yang ada pada manusia tersebut.
           Ujaran bukanlah suatu urutan bunyi yang linear tetapi urutan bunyi yang membentuk unit-unit konstituen yang hierarkis dan masing-masing unit ini adalah realita psikologis. Frasa orang tua itu, misalnya, membentuk suatu kesatuan psikologis yang tak dapat dipisahkan. Frasa ini dapat digantikan dengan hanya satu kata seperti Achmad atau dia.
           Pada tahap ini orang juga mulai berbicara tentang peran biologi merupakan landasan bahasa itu tumbuh. Orang-orang seperti Chomsky dan Lenneberg mengatakan bahwa pertumbuhan bahasa seorang manusia itu terkait secara genetik dengan pertumbuhan biologinya.
d.   Tahap Teori Psikolinguistik
           Pada tahap akhir ini, psikolinguistik tidak lagi berdiri sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu lain karena pemerolehan dan penggunaan bahasa manusia menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan yang lain. Psikolinguistik tidak lagi terdiri atas psiko dan linguistik saja tetapi juga menyangkut ilmu-ilmu lain seperti neurologi, filsafat, primatologi, dan genetika.
           Neurologi mempunyai peran yang sangat erat dengan bahasa karena kemampuan manusia berbahasa ternyata bukan karena lingkungan tetapi karena kodrat neurologis yang dibawanya sejak lahir. Tanpa otak dengan fungsi-fungsinya yang kita miliki seperti sekarang ini, mustahillah manusia dapat berbahasa. Ilmu filsafat juga kembali memegang peran karena pemerolehan pengetahuan merupakan masalah yang sejak zaman purba menjadi perdebatan di antara para filosof – apa pengetahuan itu dan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Primatologi dan genetika mengkaji sampai seberapa jauh bahasa itu milik khusus manusia dan bagaimana genetika terkait dengan pertumbuhan bahasa. Dengan kata lain, psikolinguistik kini telah menjadi ilmu yang ditopang oleh ilmu-ilmu yang lain.




C. Aspek-Aspek Psikolinguistik
a.      Bahasa sebagai suatu sistem
Mengisyaratkan adanya kaidah yang mengatur suatu bahasa. Kaidah bahasa tertentu tercermin dalam tatarannya. Kaidah tersebut tidak berdiri sendiri tetapi merupakan seperangkat unsur yang menjalin dan membentuk suatu sistem. Bahasa itu bersifat dinamis dengan pengertian bahwa bahasa itu berkembang sesuai dengan perkembangan penutur bahasa. Itu sebabnya bahasa dapat pula kita lihat sebagai tingkah laku personal. Sebagai suatu sistem bahasa menampakan wujudnya dalam bunyi dan simbol-simbol. Bunyi dan simbol mengikuti kaidah yang ditaati oleh penutur bahasa dan secara konvensional digunakan dalam kehidupan sehari-hari. sistem bahasa tertentu yang merupakan kompetensi penutur bahasa akan menampakkan wujudnya dalam performansi seseorang.
b.      Bahasa sebagai tingkah laku personal
Sebagai tingkah laku personal, bahasa menampakan wujudnya dalam penampilan seseorang. Contoh : apabila seseorang berkata, “Berkatalah Saudara dan akan saya katakan siapakah saudara”. Dengan kata lain, dengan bahasa kita dapat ketahui tingkah laku penutur bahasa. Orang bisa saja mengambil kesimpulan dengan melihat reaksi seseorang terhadap rangsangan yang ia terima. Hubungan antara situasi, konteks verbal pembicaraan dapat dipelajari dan kita dapat mengambil kesimpulan makna yang terkandung dalam suatu tuturan.
c. Bahasa sebagai tingkah laku antarpersonal
Bahasa dapat dilihat melalui situasi komunikasi pada situasi tertentu. Apabila seseorang bertanya dan lawan bicara menjawab dengan memuaskan berarti komunikasi berhasil baik. Sebaliknya kalau seseorang memerintah kemudian lawan bicara diam saja, itu tandanya komunikasi tidak berhasil. Sebab-sebabnya dapat dilihat dari : pembicara, lawan bicara, dan situasi.
Banyak variabel yang ikut menentukan lancarnya komunikasi.
Dalam komunikasi terjadi banyak hambatan yang berhubungan dengan persepsi penutur antara lain : Informasi yang dikirim kurang jelas, ingatan dan kapasitas penutur dan pendengar berbeda, kedua pembicara menggunakan konvensi gramatikal yang berbeda, antara keduanya terjadi interferensi gramatikal yang bersifat regional, dan pengaruh alat bicara dan alat dengar yang tidak sempurna.
Kalau kita ingin menggunakan bahasa tertentu, salah satu cara yakni mendengarkan tuturan penutur bahasa yang bersangkutan.
Dilihat dari segi psikolinguistik, tuturan dapat dilihat dari tiga tingkat, yakni: struktural, intensional, dan motivasional.
Aspek struktural mengacu kepada sistem bahasa yang bersangkutan. Aspek intensional mengacu kepada kebertahanan leksikon dan makna   pada otak pembicara. Aspek motivasional mengacu kepada daya dorong yang menyebabkan seseorang menyatakan sesuatu dengan menggunakan bahasa.

C. Keterkaitan Antara Bahasa dan Pikiran
Pada hakikatnya dalam kegiatan berkomunikasi terjadi proses memproduksi dan memahami ujaran.  Dapat dikatakan bahwa psikolinguistik adalah studi tentang mekanisme mental yang terjadi pada orang yang menggunakan bahasa, baik pada saat memproduksi atau memahami ujaran .Dengan kata lain, dalam penggunaan bahasa terjadi proses mengubah pikiran menjadi kode dan mengubah kode menjadi  pikiran. Ujaran merupakan sintesis dari proses pengubahan konsep menjadi kode, sedangkan pemahaman pesan tersebut hasil analisis kode.
Bahasa sebagai wujud atau hasil proses dan sebagai sesuatu yang diproses baik berupa   bahasa  lisan  maupun  bahasa  tulis,  sebagaimana  dikemukakan   oleh  Kempen bahwa Psikolinguistik adalah studi mengenai manusia sebagai pemakai bahasa, yaitu studi mengenai sistem-sistem bahasa yang  ada pada manusia yang dapat menjelaskan cara manusia dapat menangkap ide-ide orang lain dan bagaimana ia dapat mengekspresikan ide-idenya sendiri melalui bahasa, baik secara tertulis ataupun secara lisan. Apabila dikaitkan dengan keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh seseorang, hal ini berkaitan dengan keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Semua bahasa yang diperoleh pada hakikatnya dibutuhkan untuk berkomunikasi. Karena itu,  Slama mengemukakan bahwa psycholinguistics is the study of relations between our needs for expression and communications and the means offered to us by a language learned in one’s childhood and later ‘psikolinguistik adalah telaah tentang hubungan  antara kebutuhan-kebutuhan kita untuk berekspresi dan berkomunikasi dan benda-benda yang ditawarkan kepada kita melalui bahasa yang kita pelajari sejak kecil dan tahap-tahap selanjutnya.
Manusia hanya akan dapat berkata dan memahami satu dengan lainnya dalam kata-kata yang terbahasakan. Bahasa yang dipelajari semenjak anak-anak bukanlah bahasa yang netral dalam mengkoding realitas objektif. Bahasa memiliki orientasi yang subjektif dalam menggambarkan dunia pengalaman manusia. Orientasi inilah yang selanjutnya mempengaruhi bagaimana manusia berpikir dan berkata.
Perilaku yang tampak dalam berbahasa adalah perilaku manusia ketika  berbicara dan menulis atau ketika dia memproduksi  bahasa, sedangkan prilaku yang tidak tampak adalah perilaku manusia ketika memahami yang  disimak atau dibaca sehingga menjadi sesuatu yang dimilikinya atau memproses sesuatu yang akan diucapkan atau ditulisnya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan ruang lingkup Psikolinguistik yaitu penerolehan bahasa, pemakaian bahasa, pemproduksian bahasa, pemprosesan bahasa, proses pengkodean,  hubungan antara bahasa dan prilaku manusia, hubungan antara bahasa dengan otak. Berkaitan dengan hal ini Yudibrata menyatakan bahwa Psikolinguistik meliputi pemerolehan atau akuaisisi bahasa, hubungan bahasa dengan otak, pengaruh pemerolehan bahasa dan penguasaan bahasa terhadap kecerdasan cara berpikir, hubungan encoding (proses mengkode) dengan decoding (penafsiran/pemaknaan kode), hubungan antara pengetahuan bahasa dengan pemakaian bahasa dan perubahan bahasa).
Manusia sebagai pengguna bahasa dapat dianggap sebagai organisme yang beraktivitas untuk mencapai ranah-ranah psikologi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. Kemampuan menggunakan bahasa baik secara reseptif (menyimak dan membaca) ataupun produktif (berbicara dan menulis) melibatkan ketiga ranah tadi. Istilah cognitive berasal dari cognition yang padanannya knowing berarti mengetahui. Dalam arti yang luas cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam perkembangan selanjutnya istilah kognitiflah yang menjadi populer sebagai salah satu domain, ranah/wilayah/bidang psikologis manusia yang meliputi perilaku mental manusia yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pemecahan masalah, pengolahan informasi, kesengajaan, dan keyakinan.
Menurut Chaplin  ranah ini berpusat di otak yang juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa. Ranah kognitif yang berpusat di otak merupakan ranah yang yang terpenting. Ranah ini merupakan sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya, yaitu ranah efektif (rasa) dan ranah psikomotor (karsa). Dalam kaitan ini Syah mengemukakan bahwa tanpa ranah kognitif sulit dibayangkan seseorang dapat berpikir. Tanpa kemampuan berpikir mustahil seseorang tersebut dapat memahami dan meyakini faedah materi-materi yang disajikan kepadanya.
Afektif adalah ranah psikologi yang meliputi seluruh fenomena perasaan seperti cinta, sedih, senang, benci, serta sikap-sikap tertentu terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Sedangkan, psikomotor adalah ranah psikologi yang segala amal jasmaniah yang konkret dan mudah diamati baik kuantitas maupun kualitasnya karena sifatnya terbuka.
Beberapa ahli mencoba memaparkan bentuk hubungan antara bahasa dan pikiran, atau lebih disempitkan lagi, bagaimana bahasa mempengaruhi pikiran manusia. Dari banyak tokoh yang memaparkan hubungan antara bahasa dan pikiran, penulis melihat bahwa paparan Edward Sapir dan Benyamin Whorf yang banyak dikutip oleh berbagai peneliti dalam meneliti hubungan bahasa dan pikiran.
                 Sapir dan Worf mengatakan bahwa tidak ada dua bahasa yang memiliki kesamaan untuk dipertimbangkan sebagai realitas sosial yang sama. Sapir dan Worf menguraikan dua hipotesis mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikiran, yaitu:
1.Hipotesis pertama adalah lingusitic relativity hypothesis yang menyatakan bahwa perbedaan struktur bahasa secara umum paralel dengan perbedaan kognitif non bahasa (nonlinguistic cognitive). Perbedaan bahasa menyebabkan perbedaan pikiran orang yang menggunakan bahasa tersebut.
2.Hipotesis kedua adalah linguistics determinism yang menyatakan bahwa struktur bahasa mempengaruhi cara inidvidu mempersepsi dan menalar dunia perseptual. Dengan kata lain, struktur kognisi manusia ditentukan oleh kategori dan struktur yang sudah ada dalam bahasa.
             Pengaruh bahasa terhadap pikiran dapat terjadi melalui habituasi dan beroperasinya aspek formal bahasa, misalnya gramar dan leksikon. Whorf mengatakan “grammatical and lexical resources of individual languages heavily constrain the conceptual representations available to their speakers”. Gramar dan leksikon dalam sebuah bahasa menjadi penentu representasi konseptual yang ada dalam pengguna bahasa tersebut. Selain habituasi dan aspek formal bahasa, salah satu aspek yang dominan dalam konsep Whorf dan Sapir adalah masalah bahasa mempengaruhi kategorisasi dalam persepsi manusia yang akan menjadi premis dalam berpikir, seperti apa yang dikatakan oleh Whorf berikut ini : “Kita membelah alam dengan garis yang dibuat oleh bahasa native kita. Kategori dan tipe yang kita isolasi dari dunia fenomena tidak dapat kita temui karena semua fenomena tersebut tertangkap oleh majah tiap observer. Secara kontras, dunia mempresentasikan sebuah kaleidoscopic flux yang penuh impresi yang dikategorikan oleh pikiran kita, dan ini adalah sistem bahasa yang ada di pikiran kita. Kita membelah alam, mengorganisasikannya ke dalam konsep, memilah unsur-unsur yang penting.
Bahasa bagi Whorf pemandu realitas sosial dan mengkondisikan pikiran individu tentang sebuah masalah dan proses sosial. Individu tidak hidup dalam dunia objektif, tidak hanya dalam dunia kegiatan sosial seperti yang biasa dipahaminya, tetapi sangat ditentukan oleh simbol-simbol bahasa tertentu yang menjadi medium komunikasi sosial. Tidak ada dua bahasa yang cukup sama untuk mewakili realitas yang sama. Dunia tempat tinggal berbagai masyarakat dinilai oleh Whorf sebagai dunia yang sama akan tetapi dengan karakteristik yang berbeda. Singkat kata, dapat disimpulkan bahwa pandangan manusia tentag dunia dibentuk oleh bahasa sehingga karena bahasa berbeda maka pandangan tentang dunia pun berbeda. Secara selektif individu menyaring sensori yangmasuk seperti yang diprogramkan oleh bahasa yang dipakainya. Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda memiliki perbedaan sensori pula.

D. Persepsi Ujaran dan Memahami Ujaran
            Manusia memproses ujaran yang didengar satu per satu. Akan tetapi, dalam kenyataannya bunyi itu tidak diujarkan secara lepas dari bunyi yang lain. bunyi selalu diujarkan berurutan dengan bunyi yang lain, semacam deretan bunyi. Sebagai pendengar kita tetap saja dapat menentukan bahwa bunyi-bunyi itu secara fonetik berbeda. Persepsi terhadap bunyi dalam deretan bunyi bisa dipengaruhi oleh kecepatan ujaran. Faktor lain yang membantu kita dalam mempersepsi ujaran adalah pengetahuan kita tentang sintaksis maupun semantik bahasa. Sehingga kita menyadari, pengaruh konteks dalam persepsi ujaran sangat besar.
            Dalam memahami suatu ujaran, ada tiga faktor yang ikut membantu kita. Pertama adalah faktor yang berkaitan dengan pengetahuan dunia, faktor-faktor sintaktik, dan faktor semantik (Dardjowidjojo, 2010: 67). Faktor yang berkaitan dengan dunia akan memberikan wawasan kepada seseorang untuk memahami keadaan sekitarnya, mengenali lambang-lambang dari apa yang dilihat, dan memahami hal-hal yang bersifat universal dan tidak universal dalam dunia ini. faktor sintaktik merupakan konstituen dalam memahami ujaran. Ada beberapa  stratergi dalam memahami ujaran, yaitu: mengidentifikasi kata pertama dari suatu konstituen yang kita dengar, mendengarkan kata berikutnya, dan mendengarkan verba atau kata kerja.  Ada pun faktor-faktor yang mempengaruhi akses seseorang terhadap kata adalah faktor frekuensi, faktor ketergambaran, faktor keterkaitan semantik, faktor kategori gramatikal, dan faktor fonologi (Dardjowidjojo, 2010: 87).






E. Kompleksitas dalam Ujaran dan Pikiran
Pada umumnya suatu pemikiran yang kompleks dinyatakan dalam kalimat yang kompleks pula. Hal ini, dapat diartikan pula apabila dalam mengungkapkan sebuah kalimat, dibutuhkan pemikiran yang kompleks. Kompleksitas makna dalam kalimat yang kompleks muncul, karena dalam kalimat tersebut terdapat proposisi yang jumlahnya sangat banyak. Dalam penerapan proposisi-proposisi tersebut dapat bertindak sebagai anak kalimat yang menjadi pelengkap untuk kalimat induk, selain itu, kalimat  dapat diperpanjang  setiap akhir dari kalimat tersebut adalah nomina.
Bahasa digunakan untuk mengungkapkan pikiran. Pertanyaan yang perlu dikerjakan :
1.   Bagaimana hubungan antara bahasa dan pikiran
2.   Dapatkah kita berpikir tanpa bahasa
3.   Bagaimana proses berpikir itu
4.   Apakah pikiran kita dipolakan oleh struktur bahasa yang kita gunakan
5.   Bagaimana caranya agar hasil pemikiran dimengerti oleh pendengar

Menurut Langacker, berpikir adalah aktivitas mental manusia. Aktivitas mental akan berlangsung apabila ada stimulus, artinya ada sesuatu yang menyebabkan manusia untuk berpikir. Memang ada saja yang dipikirkan manusia. Bahasa digunakan untuk mengoperasikan hasil pemikiran manusia. Dalam hubungan ini bahasa dapat dilihat dari dua hal yakni sebagai aktivitas jiwa dan bahasa sebagai aktvitas otak.  Sebagai aktivitas jiwa, bahasa dapat dianggap baik sebagai gerakan mental atau sebagai stimulus reaksi, ilmu yang mempelajari bahasa sebagai gerakan mental di sebut psikomekanik, bahasa dianggap sebagai aktivitas otak. Sebagai aktivitas otak terdapat dua pendekatan yang digunakan yakni Pendekatan melalui neurology, yaitu bunyi bahasa dan konsep terdapat dalam otak.



F. Pemerolehan dan Pembelajaran Bahasa
            Pemerolehan bahasa adalah proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh seorang anak secara natural pada waktu ia belajar bahasa ibunya. Pembelajaran bahasa adalah proses untuk mendapatkan bahasa secara sadar dalam tatanan yang formal, ada seseorang yang diajar dan mengajar bahasa (Dardjowidjojo, 2010: 225).
        Pemerolehan dan pembelajaran bahasa merupakan cara untuk mendapatkan bahasa. Secara definisi, kedua istilah ini mengandung perbedaan. Pemerolehan bahasa adalah proses mendapatkan bahasa yang terjadi secara alamiah, memungut begitu saja dari lingkungannya dengan meniru, tidak terencana, dan memerlukan waktu yang lama dalam menguasainya. Pembelajaran bahasa adalah proses mendapatkan bahasa yang dilakukan dengan penuh kesadaran, biasanya dalam situasi formal ada yang mengajarkan yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan bahasa, baik bersifat pernyataan maupun prosedur bahasa.
        Pemerolehan bahasa terjadi secara alamiah. Memahami kealamiahan pemerolehan bahasa tentu tidak terlepas dari aspek psikologis seseorang. Sebagai ilustrasi, anak yang baru lahir ke dunia selalu menangis. Itulah bahasa yang pertama kali dia ucapkan bukan dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa seperti lazimnya orang dewasa. Apa pun yang dikehendakinya selalu saja menangis. Anak belum mampu mengetahui bahasa secara verbal. Namun, lingkungan keluarga mulai mengajarkan bahasa verbal tersebut dengan mengulang-ulang setiap hari., sementara anak hanya bisa menyimak, tersenyum, dan menangis lagi. Pada fase ini, anak tidak dipaksakan untuk mengucapkan apa yang diucapkan oleh orang tuanya. Orang tua tidak menuntut anaknya paham atau tidak dengan ucapannya. Orang tua hanya mengulang dan mengulang secara terus menerus. Anak hanya menyimak menampung informasi bahasa verbal. Usia 3 bulan anak mulai bersuara yang tidak jelas, bukan hanya menangis. Seolah-olah ingin segera berkomunikasi dengan orang tuanya. Usia 6 bulan, anak akan mengeluarkan bahasa verbalnya, contoh: ma.. untuk mama, ba… untuk bapak. Contoh ini tidak mutlak karena bergantung lingkungan yang memengaruhinyadan cepat atau lambatnya respon dari anak tersebut. Kondisi ini terus berkembang hingga akhirnya anak mampu mengucapkan kata yang melambangkan sesuatu dalam memorinya. Melalui pancainderanya, seorang anak mulai mengenali lingkungannya dan memverbalkan melalui alat ucapnya. Anak-anak menirukan apa yang didengarnya kemudian menjadi pemahaman di dalam memorinya. Fenomena ini tidak terencana, mengalir begitu saja seperti air yang mengalir menuju ke laut. Ada muaranya, yaitu kelak seorang anak pasti berbicara dan mampu mengomunikasikan idenya. Kondisi ini memerlukan perjalanan waktu yang panjang.
        Selain melalui pemerolehan, bahasa juga dapat dipelajari. Bahasa adalah ilmu. Bahasa memiliki aturan dan kaidah. Pembelajaran bahasa dilakukan sebagai upaya memeroleh pengetahuan berbahasa baik sebagai kebutuhan komunikasi atau sebagai alat untuk memahami disiplin ilmu yang lain. Pembelajaran bahasa adalah upaya sadar dari seseorang untuk memahami kaidah yang berlaku dalam bahasa tersebut. Pembelajaran bahasa biasanya dilakukan dengan sengaja waktu tertentu. Waktu ini disepakati oleh pembelajar dan pengajar. Pengajar memegang peranan dalam mentransfer pengetahuan bahasa kepada pembelajar. Dalam prosesnya pembelajaran terkesan bersifat secara alamiah, namun dalam pembelajaran ini sifat alamiah ini dikondisikan, diatur sehingga proses pembelajaran seolah-olah berada dalam situasi alamiah. Simulasi-simulasi ini dimaksudkan agar pembelajaran bahasa dapat dipahami dengan mudah. Semua ini bermuara pada tujuan akhirnya, yaitu pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Pengetahuan dan kemampuan berbahasa inilah yang digunakan pembelajar untuk memeroleh pengetahuan baru yang menggunakan bahasa pengantar dari bahasa yang dipelajarinya.







G. Kedudukan Psikolinguistik dan Ilmu Lain
Setiap ilmu berdiri sendiri. Namun dalam operasionalnya tidak berdiri sendiri. Biasanya manusia menyelesaikan sesuatu dengan menggunakan berbagai cabang ilmu. dengan kata lain terdapat hubungan suatu ilmu dengan ilmu yang lain. Bagaimana kedudukan psikolinguistik dengan ilmu lain dapat digambarkan oleh George sebagai berikut: 
Contoh            : Ali yang gemuk itu sakit.
Linguistik        : Struktur kalimat
Psikologi         : Bagaimana perasaan Ali yang sakit?
Logika             : mungkinkah orang yang gemuk itu sakit?
Filsafat            : Darimana datangnya sakit, dan kalau sudah sembuh ke  mana perginya rasa sakit itu? Mengapa orang sakit meskipun diobati meninggal juga?

H. Psikolinguistik Dewasa Ini
Dewasa ini psikolinguistik lebih diarahkan untuk pendidikan bahasa. Psikolinguistik dimanfaatkan untuk pengajaran bahasa. Pengajaran bahasa di sini diarahkan agar si terdidik mahir berbahasa. Jadi, tujuannya praktis, yakni agar si terdidik dapat menggunakan bahasa yang diajarkan kepadanya. Peranan psikolinguistik dalam pengajaran bahasa bukan saja berhubungan dengan akuisisi bahasa, tetapi juga untuk kepentingan belajar bahasa pertama, bahasa kedua, dan bahasa asing. Dewasa ini si terdidik bukan saja mempelajari satu bahasa tetapi harus diajarkan bahasa yang bukan bahasa ibunya. Untuk mempelajari bahasa diperlukan gabungan teori linguistik dan psikologi yang menjelama dalam sub disiplin linguistik yang disebut Psikolinguistik. Dengan adanya psikolinguistik diharapkan proses akuisisi bahasa lebih terungkap dan pengajaran bahasa, baik bahasa ibu, bahasa kedua, maupun bahasa asing lebih memenuhi harapan.




Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Dardjowidjojo, Soenjono. 2010. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Kridalaksana, Harimurti. 2011. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar