SEMANGAT DAN KEBERSAMAAN MEMBUAT KITA BELAJAR UNTUK MENGERTI DAN DIMENGERTI

Kamis, 15 Desember 2011

PRESUPOSISI DAN FAKTUALISASI Oleh Listyawati

1.     PRESUPOSISI
Ada  tiga hubungan semantik al:
a.     1. Hubungan akibat (entailment)
b.     2. Praanggapan (presuposition)
c.      3. Harapan (expectation)

Tujuan utama dalam bab ini adalah menyelidiki konsep penting mengenai presuposition (praanggapan) untuk membedakan tiga tipe yang tergantung pada kebenaran semantik al:

X  ENTAILS (MEMPERSYARATKAN)Y
     X: “He married a blode heiress.’dia menikah dengan ahli waris berambut pirang
     Y: ‘He married a blode.’ Dia menikah
X   PRESUPOSITION (MENGANDUNG PRAANGGAPAN) Y
X: The girl he married was an heiress.’ Wanita itu menikah dengan sirambut pirang
     Y: He married a girl. Wanita itu menikah
X   EXPECTS (MENGANDUNG HARAPAN)Y
     X: Few men marry blode heiresses
     Y: Some men marry blode heiresses
Ketiga contoh  di atas semuanya memiliki hubungan paralel. Dalam setiap kasus di atas mungkin kita mengatakan ‘Dari X dapat disimpulkan Y.’ Yang pertama adalah hubungan ‘entailment’ atau ‘persyaratan’,(dijelaskan pada bab sebelumnya). Yang kedua adalah hubungan presuposition atau ‘praanggapan’(ada pada bab 1). Ketiga adalah hubungan yang lebih lemah yaitu expection atau harapan. Dalam kajian ini yang paling pokok dibicarakan adalah yang kedua (presuposisi).  
1. 1 Presuposisi /praanggapan versus hubungan persyaratan
Dalam pengertian nilai kebenaran, persyaratan telah didefinisikan di bab 5 sebagai hubungan antara dua pernyataan x dan y sedemikian rupa sehingga
(a)   Jika x benar, maka y harus benar.
(b)   Jika y salah, maka x harus salah.
Presuposisi/presuposisi positif telah diberikan ciri sementara sebagai hubungan antara x dan y sedemikian rupa sehingga  ‘seseorang yang mengatakan x menerima sebagai yang benar mengenai kebenaran y’. Deskripsi ini pengganti sementara yang kabur kecuali jika kita cukup beralasan dapat memahami secara tepat apa arti ‘ menerima sebagai yang benar’ (dengan menduga bahwa suatu perbuatan ujaran itu memilki/tidak memiliki ‘validitas’/happiness/kepantasan (lihat Austin 1962)
Presuposisi adalah hubungan antara x dan y sedemikian rupa sehingga:
(a)   Jika ungkapan x sahih (valid), maka y haruslah benar.
(b)   Jika y salah, maka ungkapan x tidak sahih (valid) atau kosong(void)’.
Istilah ‘valid’ dan invalid’ dipakai dan tidaknya ‘bermakna (meaningful)’ dan tidak bermakna (meaning less)’
Contoh seseorang diberitahu :Turn off the television’ ketika sebenarnya televisi itu sudah mati. Kita tidak akan mengatakan bahwa ungkapan itu salah (karena perintah bagaimanapun tidak dapat benar atau salah) tetapi bahwa perintah itu diucapkan dalam beberapa hal tidak tepat.
Sementara, persyaratan adalah hubungan yang terbatas pada pernyataan, contoh di atas menunjukkan bahwa presuposisi juga dapat mencakup predikasi lain. Dengan demikian, meskipun y di dalam x mengandung presuposisi y harus merupakan pernyataan, x tidak hanya dapat merupakan pernyataan saja, tetapi juga dapat merupakan pertanyaan/perintah/seruan.
Contoh: The book you stole from the library is interesting. (pernyataan)
                When did you stel the book from the library? (pertanyaan)
              See that you take back the book you stole from the library. (perintah)
              What an interesting book you stole from the library. (seruan)
Semua contoh kalimat di atas mengandung presuposisi ‘You stole the book from the library.’
Oleh karena kekuatan ‘validitas’ atau kelayakan’ merupakan gambaran penggunaan populer yang kurang jelas dibandingkan dengan ‘kebenaran’ dan kesalahan. Kasus yang sering terjadi bahaya kekacauan mengenai hubungan akibat adalah presuposisi bahwa ungkapan yang mengandung persangka (X), juga yang dipersangkaan (Y, adalah suatu pernyataan; tetapi untunglah, di dalam kasus ini, kriteria yang lebih jelas darei presuposisi, yang diformulasikan dalam arti kebenaran dan kesalahan, menunjukkan dirinya sendiri.
X MEMPERSYARATKAN Y berarti bahwa
Jika X benar, maka Y harus benar
(tetapi jika bukan –X benar, maka Y tidak harus benar)
X MENGANDUNG PRAANGGAPAN Y berarti bahwa
               Jika X benar, maka Y benar
               Dan juga,
               Jika bukan X benar, maka Y benar
Dengan kata lain, jika orang membuat negatif kalimat X yang mengandung akibat, akibatnya tidak lagi jelas, tetapi jika orang menegatifkan kalimat X yang mengandung presuposisi, hubungan presuposisi (praanggapan) itu tetap benar.
He married a blode heiress’ mengandung akibat
He married a blonde.’
He did not marry a blonde heiress’ tidak mengandung akibat
He married a blonde.’
The blonde he married was an heiress’ mengandung praanggapan He married a blonde.’
The blonde he married was not an heiress’ mengandung praanggapan ‘He married a blonde.
Contoh kalimat di atas disebut tes negasi sebagai sarana memilah persyaratan dan presuposisi berguna dalam kasus jika X adalah suatu pernyataan. Tetapi hal ini tidak dapat diterapkan pada jenis ungkapan yang lain seperti pertanyaan dan perintah, bahwa hanya pernyataan saja yang dapat memiliki sifat kebenaran atau kesalahan.
Dari perbedaan antara persyaratan (entailment) dan presuposisi (praanggapan) di atas maka keduanya memenuhi kriteria tidak dapat dikontradiksikan, maksudnya jika orang menggabungkan X dengan negatif dari presuposisinya atau hubungan persyaratan Y, hasilnya adalah keanehan. 
Contoh:
a. He didn’t marry (a girl), but the girl he married was a blode.
b. He didn’t marry (a girl), but was the girl he married a blonde?
c. He didn’t (a girl), but he married a blonde heiress.
Semua kalimat di atas aneh, tetapi semuanya bukan karena alasan yang sama; kalimat a dan b adalah akibat dari kontradiksi presuposisi, dan kalimat c karena  kontradiksi hubungan persyaratan.
1.2. Presuposisi versus ekspektasi (harapan)
Hubungan ekspektasi/harapan adalah lebih lemah daripada persyaratan dan presuposisi, sepanjang bahwa hubungan itu tidak memenuhi kriteria tiodak dapat dikontradiksikan.
Pada dasarnya presuposisi dan harapan memiliki dua sumber semantik yang sangat berbeda. Presuposisi harus dinyatakan secara terpisah dari bentuk logis dari sebuah kalimat. Pada bab 7 dijelaskan bahwa deskriptif semantik dari suatu kalimat hendaknya mengandung sepasang spesifikasi. Bentuk logis+Karakterisasi Presuposisional.
            Banyak keuntungan jika presuposisi dari suatu ungkapan dapat diramalkan dengan kaidah yang berasal dr karakteristik tertentu penggambaran semantiknya; yaitujika unsur penggambaran semantik sudah ditentukan untuk sebuah kalimat, maka atas dasar yang lain juga akan memberikan karakterisasi dari presuposisi. Jika dua tujuan ini dsapat tercapai, perlakuan terhadap presuposisi akan sejalan seperti yang sudah diberikan klepada persyaratan di dalam Bab 7.
Dapat dinyatakan bahwa kaidah presuposisi adalah jika suatu prediksi X di dalamnya mengandung (baik langsung ataupun tidak langsung)predikasi tataran rendah Y, maka X mengandung presuposisi Y, (di mana Y, adalah pernyataan yang bebas yang ekuivalen dengan Y).

                                                               

               Predikasi tataran rendah Y identik dengan pernyataan pokok (yang berpresuposisi) Y’ kecuali bahwa kaidah koreferensi sudah berlaku untuk A3. Perubahan ini sudah mencakup dalam kaidah bahwa Y dan Y’ adalah ekuivalen’
               Ada dua hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan presuposisi dari sifat-sifat penggambaran semantik al:
a.      Secara logis presuposisi adalah hubungan transitif (yaitu jika X mengandung presuposisi Y dan Y mengandung presuposisi Z, maka X mengandung presuposisi Z) Berikut contohnya:
X: The inventor of the flying bicycle was a genius.’
Y: ’Someone invented the flying bicycle.’
Z: There is a bicycle which flies.’
b.      Untuk setiap predikasi X, jika X mengandung presuposisi Y dan Y ada persyaratan dengan Z, maka X mengandung presuposisi.
Z:
X:’Low-flying bicycle can be dangerous’ mengandung presuposisi
Y: ‘Some bicycles fly low’, yang ada persyaratan dengan
X: ‘Some bicycles fly.’(kaidah komulatif)

Dengan kaidah komulatif ini, akan mudah melihat bagaimana satu ungkapan dapat mempunyai sejumlah besar presuposisi. Kaidah ini akan mengubah ciri komponensial tunggal seperti MALE menjadi predikasi tataran rendah <the:MALE>. Berarti bahwa setiap ciri tunggal di dalam argumen secara potensial berasosiasi dengan presuposisi.

               Presuposisi dapat dipakai dalam definisi tipe yang ganjil, dalam hal ini tipe kontrakdisi yang paling penting  (bab 5) adalah pernyataan yang secara logis tidak konsisten dengan praanggapan/presuposisi:
               The illeterate boy was reading was reading a newspaper’ mengandung presuposisi dan tidak konsisten dengan ‘The boy could not read.’ Contoh kedua (secara semantik ganjil/presuposisi kontradiksi: The orphan’s father drinks heavity’ mengandung presuposisi
                        The orphan has a father.                                                 
 
     
2. FAKTUALITAS, NON-FAKTUALITAS, DAN KONTRA-FAKTUALITAS
Faktualitas yaitu asumsi-asumsi yang mengandung kenyataan yang sesuai dengan tataran sintaksis contoh:
1.      They’ll send us postcards of the interesting places they visit’ (mengandung presuposisi ‘They wil visit (some) interesting places.’
2.      Please send us poscads of any interesting place you visit’ tidak mengandung presuposisi ‘you will visit (some) interesting places.’
3.      ‘if you enjoy history, rome is the european city for you to visit’ tidak mengandung presuposisi you will visit/have visited some eoropean city.
Dari ketiga contoh di atas hanya kalimat pertama yang mengandung sifat faktualitas.    
           Sedangkan non-faktualitas yaitu asumsi-asumsi yang tidak mengandung presuposisi (any) tidak mengandung kenyataan. Kontra-faktualitas yaitu adanya komitmen dan bukan komitmen dari kenyataan yang ada. Ada komitmen ketidakbenaran mengenai apa yang terdapat di dalam klausa subordinat.
 Ciri predikat dapat digolongkan sebagai faktif (realize) , non-aktif(suspect), dan kontra-faktif (preted).
Contoh: Marion realized that her sister was a witch’ mengandung presuposisi
               Marion’s sister was a witch.’
               Marion suspected that her sister was a witch’ tidak mengandung presuposisi  
  Bentuk kaidah yang membedakan kondisi tersebut adalah;
REALIZE                                 (PN+) (faktif)   
                                  (Pno) (non-faktif)         
                                  (PN-)  (kontra-faktif)
Contoh:  It’s nice that John has many friend.’ (faktif)
                 It’s nice to have many friend.’ (non-faktif)
Contoh lain: John insists on reading Mary’s letters.’ (faktif)
                       ‘John wants/wishes to read Mary’s letters.’ (non-faktif)
                        Jhon wishes he could read Mary’ letter.’ (kontra-faktif)
Ketiga verb di atas (insist, want, dan wish) memiliki ciri ‘kehendak’ yang sama tetapi memiliki kondisi faktual yang berbeda.

2.1 FAKTIF MURNI DAN FAKTIF KONDISIONAL
Faktif murni adalah predikat seperti ‘make sense’, realize’, be sorry, know, amuse, regret, bear in mind, appreciate dsb. yang dibarengi klausa that. Sedangkan faktif kondisional yaitu implicative verbs yaitu cause, become, have to, force, see, hear dsb.(dibarengi konstruksi infinitif dan nominalisasi).
Contoh;
1.      faktif kondisional:
Airport police forced the hijacker to surrender his gun –the jijacker surrendered his gun.

2.      Faktif murni: I’am not sorry that he lost his job.’ – He lost his job.
                        




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar